Kamis, Juni 18, 2026
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA LAINNYA

TOP NEWS

PERISTIWA

Sungai cipangulah tertutup sampah Alarm lingkungan dari jalupang yang terabaikan

KARAWANG –Gariskritis.com  Bau menyengat itu datang lebih dulu sebelum pemandangan memilukan terlihat jelas. Sungai Alam Cipangulah di wilayah Jalupang kini bukan lagi sekadar aliran air, melainkan hamparan sampah yang menutup permukaan, seolah menjadi potret nyata krisis kepedulian lingkungan.

Di tepi sungai, warga tak lagi sekadar melintas. Mereka menahan napas. Aroma busuk menyeruak, bercampur antara limbah rumah tangga dan sampah yang mengendap, membusuk di bawah terik matahari.

Kondisi ini mencuat ke publik setelah seorang warga mengunggah situasi tersebut di Facebook.

Dalam narasinya yang sederhana namun mengandung kegelisahan, ia menulis:Sungai Alam Cipangulah ditutupi sampah Jalupang. Sekarang sungai juga diselimuti sampah. Gimana ini Karawang?”Kalimat itu singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan kegelisahan yang selama ini mungkin hanya menjadi percakapan di pinggir sungai. Kini, ia berubah menjadi pertanyaan publik—tajam dan menuntut jawaban.

Baca Juga  Diduga Jadi Lokasi Penimbunan Solar Subsidi di Kalihurip, Warga Minta Aparat dan Instansi Terkait Bertindak Tegas

 

Sungai yang semestinya menjadi sumber kehidupan, jalur aliran air yang bersih dan alami, justru berubah menjadi tempat penumpukan sampah.

Plastik, limbah domestik, dan berbagai kotoran lainnya tampak mendominasi permukaan air. Aliran yang seharusnya mengalir bebas kini tersendat, bahkan nyaris tak bergerak.Bagi warga sekitar, ini bukan sekadar persoalan estetika. Ini adalah ancaman nyata.Ketika hujan turun, kekhawatiran muncul. Sampah yang menumpuk berpotensi menyumbat aliran, memicu luapan air, dan pada akhirnya banjir. Di sisi lain, bau tak sedap yang terus tercium menjadi gangguan harian yang tak bisa dihindari.

Baca Juga  Diduga Oknum Humas SMAN 1 Lemahabang Menghalangi Tugas Media, Sikap Tidak Profesional Tuai Sorotan

Lebih dari itu, persoalan ini mencerminkan masalah yang lebih besar—minimnya kesadaran kolektif dan lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan sampah.

Sungai seolah menjadi “tempat akhir” yang paling mudah dan paling cepat, tanpa memikirkan dampak jangka panjang.ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah berbagai kampanye kebersihan lingkungan yang kerap digaungkan. Realitas di lapangan justru berbicara sebaliknya.

Minim Respons, Pertanyaan MenggantungHingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun instansi terkait. Tidak ada penjelasan, tidak ada langkah konkret yang disampaikan ke publik.

Baca Juga  Jajaran Media Garis Kritis Ucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Momentum Hijrah Menuju Kebaikan

Ketiadaan respons ini justru mempertegas kegelisahan warga. Siapa yang bertanggung jawab? Kapan penanganan dilakukan?Atau, apakah kondisi ini akan dibiarkan hingga semakin parah?

Pertanyaan-pertanyaan itu kini menggantung di udara, sama pekatnya dengan bau yang menyelimuti Sungai Cipangulah.

Sungai tidak pernah memilih untuk menjadi tempat sampah. Ia hanya mengalir, membawa kehidupan. Namun ketika manusia kehilangan kepedulian, aliran itu berubah menjadi cermin—memantulkan wajah kita sendiri.

Di Jalupang, Sungai Cipangulah hari ini bukan sekadar cerita tentang sampah. Ia adalah peringatan. Sebuah alarm lingkungan yang berbunyi keras, menunggu untuk benar-benar didengar—bukan hanya oleh warga, tetapi juga oleh mereka yang memiliki kuasa untuk bertindak.(RED Gariskritis.com)

NASIONAL

POLITIK

INVESTIGASI

Popular Articles